Mewaspadai Investasi Bodong

Dalam investasi apapun, tidak ada jaminan pasti un­tung. Calon investor menimbang dengan cermat po­tensi keuntungan dari investasi tersebut. Dan potensi keuntungan itu sebanding dengan risiko yang terkandung di dalamnya.

Oleh: Elsa Febiola Aryanti

(Perencana Keuangan Syariah & Managing Partner Hijrah Institute Jakarta Indonesia)

Investasi bodong. Berita yang hampir setiap hari menghampiri kita lewat media massa. Kisah-kisah tragis para korban yang tertipu dan kejamnya modus penipuan yang mengakibatkan bukan saja kerugian material yang besar tetapi juga penderitaan bagi korbannya. Hal ini terus terjadi di tengah masyarakat, sehingga kita perlu  mewaspadainya. Jangan sampai jatuh lebih banyak korban lagi.

Orang sering mengindentikkan in­vestasi dengan suatu upaya untuk men­dapatkan imbal hasil yang besar pada se­jumlah uang yang diikutsertakan dalam suatu skema investasi. Hal pertama yang harus diwaspadai adalah bahwa skema-skema penipuan seringkali menggunakan label atau kedok investasi. Dengan meng­gunakan kata “investasi” sudah merupa­kan pintu masuk yang mudah bagi para penipu untuk menarik perhatian calon korbannya, karena mindset kita sendiri. Bahwa yang namanya investasi itu pasti untung besar. Hanya karena suatu skema keuangan dinamakan “investasi”, bukan berarti bahwa skema tersebut betul-betul sebuah investasi. Waspadalah.

Hal berikutnya yang sering menjebak calon korban adalah kata-kata bahwa “investasi ini pasti untung”. Dalam investasi apapun, tidak ada jaminan pasti untung. Calon investor menimbang den­gan cermat potensi keuntungan dari in­vestasi tersebut. Dan potensi keuntungan itu sebanding dengan risiko yang terkandung di dalamnya. Pasti sudah sering mendengar ada istilah high risk high return, kan?

Korban investasi bodong juga sering kali menjadi tertarik dan akhirnya ter­tipu oleh investasi palsu itu karena fak­tor kemudahan yang ditawarkan. Hanya dengen menyetor sejumlah uang, tanpa melakukan apa-apa, tinggal duduk ma­nis dan menunggu imbal hasil yang dijan­jikan luar biasa besarnya setiap bulannya atau periode tertentu. Suatu hal yang terlalu mudah, apalagi menjanjikan im­bal hasil yang fantastis, perlu dicermati lebih dalam. Telaah lagi dan bertanyalah dengan kritis dan detail. Apabila sete­lah diterangkan berulang-ulang Anda masih tidak mengerti, maka tinggalkan­lah. Karena mungkin saja memang mak­sud awalnya adalah supaya Anda tidak mengerti dan mudah tertipu.

Banyak sekali korban investasi bo­dong itu yang tertipu karena awalnya percaya pada orang yang menawarkan investasi palsu tersebut. Kepercayaan itu yang menyebabkan para korban mem­percayakan uangnya untuk “diolah” oleh yang bersangkutan. Kepercayaan ini yang seringkali membutakan banyak korban dari hal-hal yang sangat mendasar. Misalnya, meminta kartu identitas dari orang yang bersangkutan, menanyakan data-data mendasar seperti pekerjaan, rumah, dan lain-lain. Kepercayaan juga yang sering menjadikan para korban mengabaikan kelengkapan dokumentasi, perijinan, perjanjian dan sebagainya den­gan pelaku investasi palsu. Dan biasanya para pelaku investasi palsu ini selalu ter­lihat meyakinkan dan mencari korban dalam komunitas yang sama.

Banyak sekali skema penipuan yang berkedok investasi itu menggunakan skema Ponzi atau “money game”. Karena mekanisme ini adalah yang termudah dan paling banyak menarik korban kare­na dipandang mudah dan untung be­sar. Bagaimana skema ini bisa dikenali. Biasanya, pelaku penipuan akan masuk dalam suatu lingkungan atau komunitas tertentu, dan mulai menawarkan skema ini kepada orang-orang yang dianggap dapat member pengaruh kepada komu­nitas atau lingkungan. Yang ditawarkan bisa macam-macam bentuknya, tapi pada prinsipnya adalah calon korban di­minta mempercayakan uangnya untuk diolah dalam suatu skema investasi ter­tentu, dan dijanjikan imbal hasil yang fan­tastis tanpa melakukan apa-apa. Tinggal duduk-duduk di rumah, dapat uang. Biasanya si penipu ini akan memberikan contoh kasus dulu lancarnya pembayaran imbal hasil, sehingga jadi berita dari mu­lut ke mulut. Dari mana uangnya? Uang yang diberikan dari imbal hasil itu bia­sanya dari uang si korban sendiri, karena pokoknya tetap dipegang oleh penipu dan didistribusikan kembali kepada kor­ban sebagai imbal hasil. Makin banyak yang ikut, maka bagi si penipu keuntun­gan makin besar dan setelah dia bisa mengumpulkan uang yang banyak ber­dasarkan kepercayaan itu tadi, biasanya si penipu akan kabur tak tentu rimbanya.

Makin maraknya penipuan berkedok investasi sepatutnya membuat kita was­pada dan menyadari bahwa untuk setiap potensi keuntungan ada potensi resiko yang harus dipertimbangkan dan upaya tertentu yang harus dilakukan. Dengan kita waspada dan terus menerus menyi­mak informasi terkini tentang skema penipuan yang terjadi, mudah-muda­han akan terhindar dari investasi bo­dong.

*Disadur dari majalah “The Intrepreneur” edisi November 2011

About IFApreneur

Seni berbisnis dan berbelanja di rumah

Posted on February 13, 2013, in Tips Keuangan and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: